7 Cara Agar Informasi Hukum Viral dan Mudah Dipahami Masyarakat

Isu hukum khususnya yang terkait hukum pidana merupakan isu yang berat, terlampau serius dan sulit untuk dikomunikasikan kepada masyarakat di dunia maya. Namun bukan berarti tidak ada cara dan keberhasilan yang pernah dicapai dalam memviralkan sebuah informasi yang terkait dengan isu hukum pidana. Menurut Reza Gardino, dalam Diskusi tentang “Creating Legal Impact: The Power of Stories” menjelaskan bahwa syarat utama untuk membuat konten viral adalah dengan membuat konten yang berkualitas dan menarik. Isu dampak Rancangan UU Hukum Pidana yang hari ini masih dibahas di DPR pernah menjadi Viral untuk sekaliber isu hukum yang sulit “dicerna” masyarakat.

Ada 7 (tujuh) cara agar konten yang ingin disampaikan menjadi viral:

  1. Melakukan riset

Sebelum membuat campaign, kita melakukan riset terlebih dahulu untuk melihat konten apa yang sedang ramai diperbincangkan. Harapannya agar konten yang akan kita sampaikan dapat merujuk kepada konten yang sedang viral tersebut. Jadi, kita tidak harus membuat konten yang baru, namun hanya perlu menggabungkan konten dengan konten yang sedang viral tersebut, sehingga konten tersebut akan ikut viral. Ada beberapa platform yang dapat digunakan untuk melakukan riset, monitor, dan prediksi terhadap konten-konten viral tanpa perlu membuka banyak tools sosial media.

  1. Rahasia

Pesan yang disampaikan dalam konten harus ada unsur yang belum pernah diketahui masyarakat atau bersifat rahasia di dalamnya. Kita harus dapat menyampaikan informasi yang sedang banyak dibicarakan, tapi penyampaiannya bukan seperti sedang membicarakan informasi tersebut. Jadi, seolah-olah kita menyampaikan suatu informasi yang hanya kita saja yang tahu, belum pernah dibahas sebelumnya dan kemudian kita membagikannya kepada orang lain.

  1. Peta Emosi

Untuk membuat suatu konten menjadi viral, kita perlu memetakan seberapa kuat peta emosi pembaca yang akan dijangkau. Reaksi dasar manusia seperti bernafas, kegelisahan, kegembiraan dan ketakutan harus dapat disentuh oleh konten yang hendak dibagikan, sehingga pembaca akan merasakan emosi dan tergerak jiwanya untuk membagikannya kepada pembaca yang lain. Tidak hanya konten negatif yang dapat menjadi viral, konten positif pun dapat menjadi viral jika kita mengetahui peta emosi reaksi dasarnya manusia.

  1. Bahan pembicaraan dan Paksa untuk mendekripsikan

Informasi yang dapat dijadikan bahan obrolan dengan orang lain akan lebih banyak dibagikan dibandingkan dengan informasi netral yang tidak menarik dan tidak dapat dijadikan bahan obrolan. Konten yang mengandung unsur “saya banget” atau “kita banget” cenderung akan lebih banyak dibagikan karena si pembaca merasa orang lain harus membaca konten itu dan merasakan hal yang sama dengannya. Informasi dalam bentuk tulisan juga harus memaksa pembacanya untuk dapat mendeskripsikan konten. Konten tertulis yang mereplikasi bahasa tutur seolah-olah membuat orang lain berada pada perasaan yang sama.

  1. Mengantisipasi Keraguan dengan Bunyi Berulang

Bunyi kata yang berulang dalam menentukan judul suatu konten dapat membuat keyakinan pembaca menjadi bertambah. Otak akan lebih mudah mengingat suatu kata yang berulang. Misalnya, “kumis, sebuah trend yang tak pernah habis?” atau “Perang Bintang di Sengketa Tambang”.

  1. Gambar dan infografis

Suatu informasi akan lebih mudah dimengerti oleh pembaca melalui infografis (gambar). Semakin bagus infografis yang dibuat, maka informasi yang terdapat didalam nya akan semakin mudah diingat oleh pembacanya. Selain itu, angka-angka 3,5,7 dan 10 adalah deretan angka yang paling sering digunakan dalam suatu konten viral.

  1. Undeserved misfortune

Undeserved misfortune adalah sebuah ketidakberuntungan yang bukan merupakan kesalahannya atau dalam bahasa popular disebut Apes. Konten yang mengandung unsur ketidakberuntungan yang disebabkan oleh dirinya sendiri, tidak akan menjadi viral karena akan dianggap biasa saja dan tidak menyentuh emosi pembacanya. Sedangkan informasi yang mengandung undeserved misfortune akan masuk pada titik emosi pembacanya. Misal, isu gelandangan dalam RKUHP, orang akan berpikir “sudah jadi gelandangan, kena denda pula.”